Direktur Utama Dan Komisaris Dituntut Satu Tahun Penjara

Direktur Utama Dan Komisaris Dituntut Satu Tahun Penjara

Tangerang (Brita7.com)-Suryadi Wongso dan Yusuf Ngadiman terdakwa kasus pemalsuan akta autentik terkait tanah di Kosambi,Tangerang,dituntut satu tahun penjara oleh Jaksa Penuntut Umum Kejaksaan Negeri Kota Tangerang,dalam sidang lanjutan di PN Tangerang, Senin (15/1/2018).

Kedua terdakwa yang menjabat sebagai Direktur Utama dan Komisaris PT Selembaran Jati, perusahaan yang bergerak di bidang properti dan pergudangan di Kosambi,  Kabupaten Tangerang, itu  terbukti dan meyakinkan melakukan perbuatan tindak pidana memberikan keterangan palsu dalam pembuatan akta autentik.

“Terbukti dan meyakinkan melanggar Pasal 266 KUHP ayat 1 dengan tuntutan pidana 1 tahun penjara,” ujar Marolop saat membacakan tuntutan di Pengadilan Negeri Tangerang.

Alasan jaksa menuntut ringan terdakwa karena Suryadi dan Yusuf dinilai tidak berbelit-belit selama persidangan, mengakui dan menyesali perbuatannya. “Terdakwa juga mau bertanggung jawab mengganti kerugian,” kata Marolop.

Berdasarkan fakta persidangan dan keterangan saksi, saksi ahli hukum pidana dan kenotariatan yang dihadirkan selama persidangan berlangsung, JPU menyimpulkan  Suryadi dan Ngadiman memenuhi unsur berkehendak menyuruh memasukan keterangan palsu ke dalam proses penerbitan akta notaris RUPS Luar Biasa pada Mei 2009.Sehingga menyebabkan  kerugian immaterial dan material terhadap korban.

Kedua terdakwa pun menyatakan akan membacakan pembelaan melalui pengacara mereka dalam sidang lanjutan pekan depan.

Sementara itu,korban Adipurna Sukarti (65) menganggap  tuntutan JPU tidak memenuhi rasa keadilan. “Tuntutan yang dijatuhkan jaksa penuntut umum tidak berkeadilan, Saya berjuang untuk mendapatkan hak saya selama lima tahun sia- sia,” ujarnya dengan nada tinggi.

Menurut pengusaha onderdil kendaraan bermotor  itu, dua terdakwa telah mengambil semua aset perusahaan, modal, keuntungan PT Salembaran Jati yang mereka  bentuk pada 2009.

“Sudah mereka ambil semua. Sepeser pun tidak saya terima,” kata Adipura.

Seperti diberitakan sebelumnya, perkara itu bermula ketika Sukarti bekerja sama dengan Yusuf Ngadiman dan ayah Suryadi Wongso yaitu Salim Wongso dengan menyertakan modal senilai Rp. 8,15 miliar pada tahun 1999. Modal tersebut digunakan untuk membeli tanah seluas 45 hektar di Desa Salembaran Jati, Kosambi, Kabupaten Tangerang.

Atas penyertaan modal tersebut,Sukarti kemudian dijadikan pemegang saham pada PT Salembaran Jati Mulya dengan mendapatkan saham sebesar 30 persen. Sedangkan Ngadiman dan Salim menerima 35 persen per orang.Kepemilikan saham tercantum pada Akta Notaris Elza Gazali nomor 11 tertanggal 8 Februari 1999.Namun selama kerja sama berjalan, Sukarti tidak pernah dibagi keuntungan.

Bahkan Sukarti tidak mengetahui saat Salim Wongso meninggal dunia mewariskan sahamnya kepada putranya Suryadi Wongso pada tahun 2001.

Pada 2008 Sukarti yang menerima informasi bahwa Ngadiman dan Suryadi Wongso telah menjual aset PT Salembaran Jati Mulya.

Karena  merasa tertipu, Sukarti  melaporkan perkara ini ke Bareskrim Mabes Polri,dan akhirnya Ngadiman serta Suryadi menjadi terdakwa di Pengadilan Negeri Tangerang.(wt)

banner 468x60
banner 468x60

No Responses

Tinggalkan Balasan